“kebersamaan terakhir dengan orang yang kita cintai membuat kita menghargai setiap detik dari kenangan masa lalu. Dan kelima kisah pendek dalam The Wedding Eve membuat kita menyadarinya. Betapa kasih sayang mampu mengalahkan segalanya…”
The Wedding Eve
Satu hari sebelum hari pernikahan, sang pria mengambil cuti dari
pekerjaan dan menghabiskan waktu seharian untuk berada di rumah dan membantu sang
wanita mempersiapkan pernikahan. Ternyata mereka adalah kakak beradik. Dan itu
adalah pernikahan sang kakak. Kakak yang terpaut usia delapan tahun itulah yang
menjadi Ayah sekaligus Ibu bagi si Adik ketika orang tua mereka meninggal
karena kecelakaan.
Menariknya dari cerita ini, di awal aku mengira kalau mereka adalah
mantan sepasang kekasih dan sang wanita akan menikah terlebih dahulu. Ternyata,
dugaanku salah total. Pembaca baru mengetahui kenyataannya di halaman terakhir
cerita ini, ketika si adik menyampaikan salam untuk mempelai pria yang
mengizinkannya menghabiskan waktu bersama kakak perempuannya.
Reunion at Azusa
Number 2
Ada seorang gadis kecil yang bertemu Ayahnya hanya satu hari dalam satu
tahun. Kebersamaan dengan Ayahnya benar-benar dimanfaatkan oleh sang gadis
kecil, mulai dari makan bersama, mencuci dan menjemur baju bersama, tidur siang
bersama hingga tiba saatnya untuk berpisah dengan sang Ayah.
Ini pun cerita yang aku suka twist-nya. Kupikir Ayah dan Ibu si gadis
kecil ini bercerai dan sang Ayah memutuskan untuk pergi dari rumah dan datang
mengunjungi si anak sekali dalam setahun. Ternyata, sang Ayah sudah meninggal
dan Ia memang datang sekali dalam setahun, tapi datangnya saat Perayaan Obon,
yaitu perayaan yang ditujukan bagi arwah, bagi orang-orang yang sudah
meninggal. Sama seperti sebelumnya, cerita yang sebenarnya baru terkuak di
halaman terakhir, saat foto sang Ayah dipajang bersama dengan dupa di meja
peringatan.
Monochrome Brothers
Saudara kembar yang sepuluh tahun berpisah, bertemu kembali di pemakaman
sahabat SMA mereka yang juga gadis yang mereka sukai. Bedanya, si kakak telah
menikah dan memiliki cucu sedangkan si adik masih sendiri dan masih mencintai
si gadis yang telah meninggal itu. Selepas upacara pemakaman, mereka
minum-minum dan bercerita banyak hal, padahal keesokannya si adik harus
menjalani tes kesehatan. Karena efek minum-minum, si adik harus mengulangi tes
kesehatan dan hasilnya dia mengidap kanker stadium akhir. Beberapa bulan
kemudian, si adik meninggal.
Endingnya sudah bisa ditebak, cinta segitiga antara saudara kembar dan
gadis yang mereka sukai. Pada akhirnya sama-sama tidak bisa mendapatkan orang
yang disukai.
Dreaming Scarecrow
(part 1 dan part 2)
Kakak beradik yang dititipkan untuk dirawat oleh keluarga sang paman,
menganggap kalau orang-orangan sawah yang ada di lahan pertanian sebagai ‘mama’
mereka. Setiap kali dimarahi oleh paman atau ada masalah, mereka selalu mengadu
ke ‘mama’ dan menghabiskan malam penuh bintang di lahan pertanian ditemani
‘mama’. Ketika remaja, sang kakak merantau ke New York meninggalkan si adik di
rumah pertanian sang paman. Suatu hari sang kakak menerima kartu pos yang
mengabarkan kalau si adik akan menikah, sehingga ia sempat menyaksikan momen
sakral tersebut. Detik-detik menjelang ikrar pernikahan, sang adik membuat
permintaan kepada sang kakak untuk membawa ‘mama’ menghadiri pernikahannya.
Suka banget dengan cerita ini, walau endingnya mudah ditebak, tapi tetap
manis untuk diikuti. Sesosok ‘mama’ selalu mengharapkan kebahagiaan dan yang
terbaik untuk anak-anaknya, walau kadang si anak nakalnya kelewatan.
October’s Miniatur
Garden
Seekor gagak mengawasi seorang penulis yang kesepian. Gagak itu selalu
hadir di mimpi sang penulis untuk menyampaikan suatu hal. Karena gagak itulah,
si penulis akhirnya menerbitkan karya kembali setelah bertahun-tahun vakum.
Yang aku suka dari cerita ini adalah kalimat si gagak:
“Tidak perlu langsung ingin dicintai orang lain. Pertama-tama lebih baik
kau yang lebih dulu mencintai orang lain”
After That
Diceritakan dari sudut pandang seekor kucing yang dipungut oleh tokoh
pria di cerita ‘The Wedding Eve’. Yup,
cerita ini adalah lanjutan dari The Wedding Eve. Sang kucing mendengar di mesin
penjawab telepon kalau kakak majikannya dibawa dengan ambulans. Sang kucing
berpikir kalau manusia itu makhluk yang penuh misteri dan tidak sopan.
Lucunya, si kucing komentar seperti ini:
“Pria ini menganggap tiap ngeonganku berarti minta makan. Dasar bodoh”
Huahahaha… sampai ngakak aku bacanya. Di rumahku itu, ngeongan si belang
memang berarti banyak hal, mulai dari pingin keluar, pingin kawin, pingin minta
makan, atau pingin dicariin kutu/bermanja-manja. Yang aku tahu, intonasi
ngeongannya berbeda-beda. Yang jelas, aku tahu kalau belang minta makan karena
dia akan menggigit kaki dan mengajak ke kulkas. Dia tahu dengan jelas bahwa
makanannya ada di kulkas. Jadi pengen unyel-unyel belang nihhhh..
No comments:
Post a Comment